KALA DARAH MENYATU

Jarum jam tangan ku menunjukkan pukul 08.30 WIB. Tapi sang surya masih enggan keluar dari peraduan karena langit diselimuti mendung. Rintik-rintik hujan turun membasahi desaku. Desa Asri begitulah leluhur kami memberinya nama. Desa yang jauh dari hiruk pikuk kota. Walau begitu, aku, ayah dan ibu sudah berpakaian rapi untuk memenuhi undangan Ko Afung yang merayakan Imlek.

Tiba-tiba hujan deras turun dari langit disertai petir bersahut-sahutan seperti nyanyian amarah alam menyertai tetesan air yang tumpah ke bumi. Sambil menunggu hujan reda aku duduk di depan jendela sambil memandangi percikan-percikan hujan yang jatuh di kaca nako. Percikan-percikan hujan di kaca nako mengalir ke bawah menyusuri kaca seolah menari-nari mengajakku menerawang masa lalu. Masa di mana terjadi peristiwa yang tak mungkin kami lupakan  sampai saat ini.

Peristiwa itu bermula ketika seorang temanku memberi kabar pilu padaku. Ayahku mengalami kecelakaan di sebuah lampu merah, tempat ayahku, menjajakan koran seperti biasanya.

Hatiku hancur mendengar kabar itu. Aku dan ibu saling berpelukan, menangis. Beberapa tetangga berdatangan dan menghampiri kami.

“Ada apa, Bu, kok ramai sekali?” tanya Pak Cipto, tetangga sebelah rumahku.

“Suamiku mengalami kecelakaan dan sekarang sedang dibawa ke rumah sakit,” jawab ibuku dengan berlinang air mata. Terlihat raut wajahnya penuh kesedihan yang mendalam.

“Jadi, bagaimana keadaannya sekarang, Bu?” tanya tante Ayu.

“Belum tahu, Tante! Tapi yang jelas saya harus segera menyusul ke rumah sakit,” jawab ibuku sambil memasukkan beberapa lembar baju ayah ke dalam tas.

“Dengan siapa dan naik apa ibu pergi ke rumah sakit?” tanya bude Desi. Ibu tidak bisa menjawab beliau hanya diam, berserah diri kepada Tuhan.

Suasana menjadi hening beberapa saat. Tiba-tiba dari dalam kerumunan terdengar suara langtang “Saya bisa antal ibu sekeluarga kalau ibu mau?” kata orang itu kental dengan logat Tionghoa. Ternyata suara lantang itu berasal dari Ko Afung. Laki-laki etnis Tionghoa yang baru pindah ke desaku.

“Apa, Ko Afung mau mengantar kami ke rumah sakit?” tanya ibu penuh keraguan.

“Demi tetangga apa yang tidak bisa saya lakukan!” kata Ko Afung dengan lantang dan jelas.

Dengan berlinang air mata ibu mengucapkan terima kasih. Segera ku jinjing tas kumal berisi beberapa lembar baju ayahku. Ko Afung berjalan di depanku  dengan Innova Fenturer. Aroma parfum mobil yang begitu menyengat keluar dari mobil saat Ko Afung membuka pintunya.

“Tak pernah kucium  aroma sewangi ini,” kataku dalam hati.

“Silahkan masuk kita akan segera berangkat” kata Ko Afung.

Kami menurut intruksinya. Sekelebat Ko Afung telah duduk di belakang kemudi dan menghidupkan mesin mobil. Hawa dingin menyeruak menyentuh kulit. Aku merasa seperti juragan pempek. Ko Afung si kaya itu menjadi sopirku.

Selama dalam perjalanan kami tidak banyak berbicara. Linangan air mata dan kesedihan menghias wajah kami. Dalam keheningan itu, aku mengenang akan ketidaksukaan ayah terhadap Ko Afung karena sifat fanatiknya terhadap agama. Ayah selalu mengeluh bila tercium bau dupa yang berasal dari rumah Ko Afung yang menganut Budha. Ayah melupakan kalau hidup di Indonesia, yang penuh dengan keberagaman. Kebetulan Ko Afung seorang etnis Tionghoa penganut Budha. Badannya yang gendut dan matanya yang sipit serta jarangnya Ko Afung berinteraksi dengan lingkungan sekitarnya membuat Ko Afung semakin eksklusif.

Setiap pagi Ko Afung akan meninggalkan rumah menuju toko di kota dan baru kembali ke rumah setelah larut malam. Ketika ada hajatan Ko Afung hanya mengutus asisten rumah tangga atau sopirnya untuk mewakili.

Suatu hari aku bertanya kepada ayah tentang hal ini. “Ayah, kenapa ayah kok begitu membenci Ko Afung?” tanyaku.

“Kamu ingin tahu?” jawab ayah dengan nada tinggi.

“Iya, Ayah!” kataku.

“Karena kita berbeda etnis dan keyakinan dengannya. Pokoknya ayah tidak suka dengannya!” kata ayahku.

“Tapi, Ayah. Ko Afung kan orangnya baik dan sering membantu orang, protesku!”. Aku diam walau dengan perasaan yang tidak terima.

Lamunanku terhenti, ketika aku dikejutkan oleh suara Ko Afung.

“Kita sudah sampai. Ayo segera turun” kata Ko Afung sambil menekan kunci pintu Innova Fenturer mewahnya agar aku dan ibu bisa keluar.

Aku segera berhambur keluar. Ibu berjalan menuju meja perawat dan menanyakan dimana ayahku di rawat.

“Ruang ICU sebelah kanan” kata seorang perawat sambil menunjuk ke satu arah ICU.

Kami bergegas menuju ruang itu. Kami hanya bisa menemui ayah secara bergilir. Ibu memasuki ruangan itu lebih dulu. Sekitar 30 menit ibu berada di ruangan itu, tak tahu apa yang ibu bicarakan dengan perawat dalam ruangan itu.

Aku hanya bisa menunggu dengan perasaan cemas yang begitu dalam, “Tuhan selamatkan ayahku” pintaku pada Tuhan sambil menengadah, dengan mata terpejam.

“Golongan darah ayahmu langka, Dea” kata ibu sambil menangis sesenggukan.

Betapa terkejut aku mendengar kalimat ibu. Menurut dokter sangat sulit mendapatkan golongan darah yang sama dengan ayah. Kami harus segera mendapatkan golongan darah yang sama dengan ayahku kalau mau ayah selamat.

Ibu mengatakan bahwa ayah terbaring lemah tak sadarkan diri. Tanpa kusadari ibu telah berada di sampingku. Dengan sekujur tubuh penuh perban. Dokter bilang ayah banyak kehilangan darah akibat kecelakaannya. Ayah menderita patah tulang rusuk sebelah kanan dan harus segera mendapat transfusi darah. Tapi kata dokter golongan darah ayah sangat langka. Jadi, sulit untuk mendapat golongan darah tersebut. Dan ibu pun diminta untuk mencari golongan darah yang sama dengan darah ayahku.

Kami segera menghubungi keluarga yang lain, mencari yang cocok dengan golongan darah ayahku. Namun, jawaban mereka selalu sama “Tidak cocok”. Keadaan ayah semakin kritis. Kami tidak bisa berbuat apa-apa. Kami berpasrah dan berdoa kepada Tuhan. Kami berharap ada keajaiban.

Di tengah ketidakberdayaan itu Ko Afung menghampiri ibu dan mengajukan pertanyaan.

“Kalau boleh tahu golongan darah Pak Ardi apa ya?” tanya Ko Afung dengan suara pelan.

“Golongan darahnya AB negatif!” jawab ibu.

“Oh…. kalau begitu kebetulan Bu, golongan darah saya juga AB negatif!” kata Ko Afung.

Jawaban Ko Afung yang menyejukkan hati. Bagai setitik embun di pagi hari. Kami memiliki harapan untuk menyelamatkan ayah. Syukur dan terima kasih tak henti kami ucapkan pada pria penyelamat ini.

Ibu segera mengurus surat pengantar rumah sakit agar Ko Afung dapat segera ke PMI untuk proses pengambilan darah. Malaikat penyelamat ayahku telah datang.

Lima jam setelah dilakukan transfusi darah, akhirnya ayah sadar. Kami  diizinkan dokter untuk menjenguk ayah, Ko Afung pun ikut bersama kami. Dahi ayah mengernyit menahan sakit. Ayah tak menampakkan raut santai atau bahagia. Darah ayah seolah mendidih melihat kehadiran Ko Afung. Aku merasa seolah-olah panas menjalar cepat di seluruh wajah ayah. Mukanya merah membara melihat kehadiran Ko Afung.

“Kenapa Ibu ajak orang itu, bukankah ibu tahu kalau ayah benci dia?”, tanya ayah dengan nada tinggi.

Kalimat ayah itu terdengar seperti dentuman meriam. Aku terasa ingin meloncat dan membekap mulut ayah. Aku gagal menegakkan kepala di hadapan Ko Afung. Wajahku tertunduk bisu.

Sesaat suasana hening. Terbayang olehku mata Ko Afung mendelik dan berlari membanting pintu ruang perawatan sambil menjerit. Aku tak tahu, setelah ini bagaimana caranya aku dan ibu menghadapi Ko Afung dan menatap matanya.

Lima menit kemudian kuberanikan diri untuk melihat ke arah Ko Afung. Tampak senyumnya tetap tersungging. Wajahnya tenang tanpa rasa kecewa.

“Kamu harus menghadapi ayahmu dengan kepala dingin. Beliau dalam kondisi yang tidak stabil.” kata Ko Afung menenangkanku.

Ko Afung menepuk bahuku dan berbicara, “Aku akan menunggu kalian di luar,”

Tak sepatah kata pun keluar dari mulutku, hanya anggukan tanda setuju.

Ibu duduk di pinggir ranjang tempat ayah dirawat sambil menenangkan hati ayah. Dialog serius terjadi antara dua orang yang aku kasihi itu. Mungkin ibu menceritakan apa yang telah dilakukan Ko Afung.

Kulihat banyak kalimat keluar dari mulut ibu. Ayah hanya diam menyimak setiap kata yang diucapkan ibu.

Tiba-tiba kulihat air bening mengalir dari sudut mata ayah. Sekelebat kulihat ibu keluar dan sesaat kemudian kembali bersama Ko Afung. Aku mendekat tanpa suara.

Wajah ayah tertunduk tak kuasa menatap wajah Ko Afung sang malaikat penyelamat nyawanya. Mungkin saat ini ayah ingin membenamkan dirinya ke dalam bumi untuk bersembunyi.

Tangan gempal nan putih Ko Afung menepuk pundak ayah. Ayah meraih tangan Ko Afung sambil berucap “Terima kasih, Ko Afung. Kau telah menyelamatkan nyawaku,” Air bening kembali menetes dari sudut mata ayah, “Maafkan sikapku selama ini” pinta ayahku.

“Sudahlah jangan dipikirkan lagi, Pak Ardi. Kita hidup bertetangga harus tolong menolong,” kata Ko Afung lembut sambil memeluk ayahku.

Aku terhanyut dalam suasana haru dan membahagiakan. Aku lega kedua orang yang berharga itu kini telah larut menyatu dalam satu rasa kasih sayang.

Waktu berlalu dengan cepat. Ayah sudah sembuh dan dapat beraktivitas seperti biasa. Kini ayah dan Ko Afung menjadi sahabat yang tak akan hilang saat masalah datang. Mereka akan menghadapi segala rintangan bersama-sama. Mereka akan saling menemani saat sedih dan bahagia.

“Dea, ayo cepat. Nanti kamu ketinggalan ke tempat Ko Afung.” Ucapan ibu membuatku tersadar dari lamunanku. Sambil terbata-bata aku menjawab “I…i…ya, Bu.” Dengan langkah mantap aku, ibu dan ayah berjalan menuju rumah Ko Afung memenuhi undangannya merayakan Imlek. Sambil berjalan aku berdoa dalam hati, semoga kebersamaan ini akan terjaga selamanya.

Ternyata perbedaan dan keragaman itu bukan hambatan untuk hidup damai dan saling menghormati. Tapi keberagaman merupakan harta yang tak ternilai bagi kita untuk bersatu. Seperti darah Ko Afung yang menyatu dengan darah ayahku.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Biografi Pengarang

Cerpen dengan judul “Kala Darah Menyatu” ditulis oleh Auliara Lutfisya Zakiyyah. Lahir di Palembang, 03 Desember 2006. Kini saya tengah menempuh pendidikan di SMP Negeri 1 Talang Kelapa. Saya anak kedua dari dua bersaudara, buah dari pasangan Tugiatno dan Diane Devi Gumayanti. Lutfi adalah panggilan akrab. Saya terlahir di keluarga yang sederhana, ayah bekerja sebagai wiraswasta, sedangkan ibu hanya sebagai ibu rumah tangga. Saya memiliki hobi dalam membaca dan menulis.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *